Sekolah Itu Candu

google

Ngapain sekolah? Kalau sekolah tidak bisa menjamin kita bisa bekerja setelah lulus. Inilah pertanyaan-pertanyaan yang selalu mengemuka pada kalangan-kalangan awam. Yang lebih nyeleneh lagi terutama bagi perempuan, Ngapain sekolah kalau sesudah tamat sekolah nanti turunnya ke dapur juga?

Kenapa pula ada jargon “sekolah itu candu”, kalau sekolah tidak bisa menjamin pasca tamat nantinya akan mendapat pekerjaan yang layak bagi kehidupannya masa depan, bisa membuat mereka memiliki kekayaan. Ngapain harus dibilang sekolah itu candu.

Pertanyaan yang sungguh sulit dijawab bagi kalangan yang masih awam dalam pemahaman tentang pentingnya sekolah. Jawaban yang sulit dicerna ketika pemikiran masih naif tentang apa fungsi sekolah dan apa pentingnya belajar untuk memperoleh pengetahuan bagi anak manusia.

Banyak jawaban yang bisa diberikan baik oleh yang ahli maupun bagi kita orang awam. Salah satu jawaban yang bisa diberikan kepada khalayak adalah sekolah bisa memberikan kekayaan ilmu dan pengetahuan. Sekolah adalah tempat untuk memperoleh hal tersebut.

Namun penting diingat bahwa tidak ada satu sekolahpun yang bisa menjamin bahwa pasca tamat dia akan kaya. Malahan banyak keluarga yang anaknya bersekolah mengalami kesulitan ekonomi, karena mahalnya biaya pendidikan di Indonesia.

Tetapi orang yang terus menerus bersekolah atau belajar, dia akan semakin tahu betapa miskinnya dia, betapa dia harus sekolah yang tinggi. Dan dia akan menyadari bahwa dia harus terus belajar, belajar dan belajar. Dengan belajar dia akan semakin banyak mengetahui dan semakin bisa memberi banyak cara untuk mencari jalan keluar dari masalah yang dihadapi. Dengan sendirinya dia akan semakin yakin bahwa dia akan bisa hidup dan memperoleh kekayaan, kekayaan bukan hanya materi namun juga kelimpahan ilmu. Siapa bilang sekolah tidak bisa membuat kaya. Jawabannya bisa.

Lalu kenapa sekolah harus candu, ketagihan atau apalah istilah kerennya. Ketika seseorang terus bersekolah dan menuntut ilmu yang benar, dia akan menyadari bahwa sekolah itu candu, ketagihan. Karena sekolah dan media ikutan lain dalam sekolah akan memberi mereka pengetahuan yang sebelumnya mereka tidak tahu dan tidak pernah tahu. Sekolah memberi ruang dalam proses pembelajaran diri dan ilmu pengetahuan.

Kecanduan terhadap sekolah tidak bisa di buat dengan serta merta, tapi itu membutuhkan proses, ada banyak orang yang gagal ketika bersekolah. Kegagalan dalam bersekolahpun kadang bisa membuat dia semakin terpuruk atau malahan bisa membuat dia semakin tahu bahwa sekolahlah yang memberi mereka pengetahuan dan ilmu yang banyak. Sehingga dia bisa memberi warna tersendiri terhadap dunia mereka.

Siapa yang tidak kenal Bill Gates pemilik Microsoft, Mark Zuckenberg pencetus dan CEO Facebook dan masih banyak orang kaya di dunia, walaupun mereka harus drop out dari sekolah. Namun sekolahlah yang memberikan mereka pengetahuan sehingga mereka bisa menjadi kaya dan terkenal. Tak ada yang bisa kaya sendiri.

Jadi pertanyaan kenapa sekolah itu penting dan malahan bisa membuat jadi candu? Jawaban konkrit bisa kita peroleh pada diri masing-masing. Semua punya jawaban. Ini hanyalah pencerahan, ketika memikirkan pendidikan anak negeri di kota dan kabupaten yang kita cintai ini. Bagaimana anak-anak kita suatu hari nanti. Pentingkah anak-anak kita bersekolah? Pentingkah mereka memperoleh pendidikan yang layak?

Kemandirian sebuah negara akan terjadi ketika generasi muda bisa membuat mereka cinta terhadap negara dan produk mereka sendiri. Mari kita buat anak-anak, keluarga, masyarakat dan negeri kita ini mengerti bahwa sekolah dan pengetahuan itu adalah candu. Sehingga pendidikan dan sumberdaya di negara kita ini akan semakin bagus dan bersaing. Amiiiinnnnn.

Nb. Di sisi lain kenapa sekolah bisa membuat candu. Bisa baca buku Roem Topatimasang, Sekolah itu Candu. Dan juga beberapa buku lain yang membahas tentang kecanduan terhadap sekolah.

[Zulyadi Miska]

One Response to Sekolah Itu Candu

  1. pustaka sempu says:

    Terimakasih telah membaca-ulas buku INSISTPress. Rehal buku ikut dilansir ke: http://blog.insist.or.id/insistpress/arsip/7256

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>